Arsip untuk September, 2008|Halaman arsip bulanan

HIPOKRISI GERAKAN DI NU

Oleh : Syina El Madani

Sejarah Politik NU

Sebelum mengurai lebih jauh apa yang terjadi dan bagaimana sebenarnya politik pecah belah serta hipokrasi gerakan di tubuh NU, alangkah bijaknya jika kita tengok kembali sejarah dimana NU melalui para tokohnya turut berperan menentukan jalan politik negeri ini.

Semasa orde lama, NU merupakan salah satu dari lima kekuatan politik terbesar saat itu, yakni Masyumi, PNI, PKI dan tentara. Karena potensi kekuatannya itulah, NU mendapatkan porsi yang cukup lumayan di masa pemerintahan orde lama (baca: Soekarno).

Sangat berbeda kemudian ketika orde baru di bawah Soeharto berkuasa di negeri ini. Orde Baru dengan kekuatan politiknya (Golkar dan tentara) menggunakan cara yang luar biasa dzalim untuk mengerdilkan (baca: menghancurkan) NU dan meraih kemenangan mutlak di setiap pemilu masa itu. Teror, ancaman, siksaan, penculikan dan pembunuhan misterius terhadap kader-kader NU merupakan hal yang lazim terjadi disetiap menjelang pemilihan umum di negeri subur makmur (yang katanya demokratis) ini.

Meski demikian, NU yang sukses berpartai pada pemilu tahun 1955 tidak surut langkah dalam menghadapi segala macam bentuk kedzaliman orde baru tersebut. Bahkan NU semakin solid dan tetap memperoleh suara yang cukup signifikan pada pemilu tahun 1971. Karena itu, bagaimanapun caranya NU harus bisa dikerdilkan. Maka mesin politik orde baru pun bermain melalui fusi partai-partai politik dimana golongan agamis (NU, Masyumi) masuk ke PPP, nasionalis ke PDI.

Setelah adanya fusi partai ini, banyak kalangan kyai NU dan kaum mudanya yang memang telah lama berkonsentrasi di luar politik menghendaki untuk segera kembali ke khittah 1926. Seruan untuk segera kembali ke khittah ini didasarkan pada kekhawatiran fusi partai akan berimbas pula pada terpenjaranya kegiatan-kegiatan NU di luar bidang politik, semisal pendidikan, dakwah dan keagamaan serta kemasyarakatan sosial. Akhirnya cetusan untuk kembali ke khittah itu diresmikan pada saat Muktamar NU ke XXVII di Situbondo. Dan nampak sekali saat itu pemerintah mendukung keputusan muktamar dengan maksud untuk “mengusir” orang-orang NU dari dunia politik.

Namun, ternyata pemerintah tidak cukup puas dengan semua itu. Segala kegiatan politik kader-kader NU sangat dibatasi. NU seperti diharamkan untuk memegang jabatan-jabatan strategis di pemerintahan, bahkan keinginan NU untuk memimpin PPP (partai yang mayoritas warganya NU) hingga Soeharto lengser tidak pernah terjadi. Dan yang paling tragis adalah ketika pemerintah mati-matian berusaha mengintervensi NU pada muktamar Cipasung.

Dan kini..saat orde baru telah berganti rupa, saat masyarakat NU mulai menata diri. Godaan untuk kembali ke dunia politik muncul dengan sangat deras, hampir semua orang NU tidak mampu membendungnya. Politisi-politisi tiban bermunculan bak jamur di musim hujan, mereka berbondong-bondong mengaku NU dan memanfaatkan nama besar NU demi bayangan kemakmuran dan hidup gengsi dari dunia politik. Saling sikut untuk berebut pengaruh pun nampak lazim dilakukan, termasuk oleh elit NU sendiri.

Hipokrasi gerakan

Dan sebenarnya, dititik kesejarahan itulah (terutama saat ini) hipokrasi gerakan dimulai. Ketika orang-orang ramai berbondong-bondong ke NU, bahkan menjadikan NU sebagai batu loncatan dan jika perlu ‘menyingkirkan’ orang lain yang dianggap berbeda dan menghalangi jalannya, baik secara sadar ataupun tidak sebetulnya orang itu telah melakukan apa yang dinamakan hipokrasi gerakan.

Barangkali lebih enaknya jika seperti ini, saya memaknai hipokrasi gerakan di tubuh NU sebagai sebuah bentuk mengkritisi (baca: menyalahkan) orang lain (individu warga) yang secara terang-terangan berpolitik. Akan tetapi disisi lain, ternyata orang beramai-ramai membawa gerbong NU ke dunia politik. Dengan kata lain, seseorang secara diam-diam bertindak lebih politik dibanding orang politik sendiri, sedangkan ia secara terbuka melakukan pengkritisan terhadap apa yang dilakukan orang lain tersebut. Dan pada akhirnya politik NU yang semestinya mengedepankan akhlakul karimah, dan politik sebagai bagian dari dakwah telah berbalik arah untuk mengejar kekuasaan semata.

Yang mungkin masih menyisakan banyak pertanyaan dalam pikiran saya adalah apa sebenarnya yang menjadi sebab dari semua itu. Mengapa hampir semua orang begitu getol untuk ikut berkecimpung di dunia itu? Walaupun kemudian saya juga berusaha mencari jawaban dari semua itu, tapi nampaknya belum cukup kuat untuk menjadi sebuah “reason” atau alasan.

Jawaban saya yang pertama, Khittah bukan merupakan tujuan perjuangan melainkan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan. Karena fungsinya sebagai alat inilah maka khittah sering dimaknai berbeda dan difungsikan sesuai kepentingan yang tengah berlaku.

Kedua, kurang kuatnya pilihan untuk berjuang lebih keras, lebih baik mewujudkan masyarakat berakhlakul karimah melalui dunia pendidikan, dakwah atau kegiatan sosial lainnya. Dan nampaknya dunia politik masih dianggap sebagai dunia perjuangan nomor satu dibandingkan yang lain.

Ketiga, kekecewaan elit sendiri (kalau tidak bisa dikatakan sebagai ketidakpercayaan) terhadap partai yang secara tidak langsung telah mereka besarkan. Orang-orang di partai politik dianggap tidak mampu menyuarakan kepentingan (organisasi) mereka.

Tidak ada batasan

Sebenarnya tidak ada batasan bagi siapapun warga NU untuk ikut serta meramaikan pasar politik. Merupakan hak bagi setiap warga untuk ikut berkecimpung dan berperan didalamnya. Hanya saja, mbok ya jangan keblabasan, sehingga kemudian mengesampingkan tujuan utama perjuangan NU untuk bangsa itu sendiri. Kalau toh memang ada keinginan untuk berpolitik, mohonlah ditunjukkan bagaimana berakhlakul karimah dalam politik, bagaimana politik digunakan sebagai alat untuk berjuang mewujudkan cita-cita berbangsa dan bernegara dan bukan demi kepentingan jangka pendek semata.

Dan apa yang terjadi saat ini, semoga bisa menjadi pelajaran sejarah paling berharga agar tidak kembali terulang di kemudian hari, agar NU tidak hanya menjadi pemain figuran melainkan tokoh utama bagi kemajuan bangsa ini, agar NU tidak hanya akan dimanfaatkan oleh segelintir orang melainkan memberikan manfaat lebih banyak untuk kemajuan bangsa. Agar kita, sebagai anak-anak NU, merasa bangga bahwa NU telah berjuang menegakkan masyarakat sipil yang demokratis di negeri ini. Semoga…

Siapa Pembunuh Wak Haji?

Oleh : A. Fathaturrahmah

Orang – orang mulai berduyun-duyun menuju rumah Wak Haji begitu mendengar berita yang tak disangka-sangka itu. Tangis sanak saudara beredar di sana sini, bercampur aduk dengan bisik-bisik para tetangga yang datang ke rumah. Hampir semua orang tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Mereka tergerak untuk membuktikannya sendiri.

“Wak Haji ditemukan meninggal pagi tadi!” sahut Mbok Yem, penjual sayuran kampung itu.

“Dan tahu tidak….?!” Sambungnya seakan memancing perhatian yang lain. “Ada sembilanpuluh sembilan tusukan di sekujur tubuhnya.”

“Jangan ngaco kamu, Yu! Dapat berita dari mana kamu berani mengatakan itu?” sahut Lek Salim yang tiba-tiba udah nimbrung di tempat itu.

“Kamu nggak percaya padaku, Lim?” sergah Mbok Yem yang seolah marah dengan kata-kata Lek Salim.

“Bukan begitu, Yu! Selama ini kan Wak Haji baik pada semua orang, sangat menghargai sesama. Bahkan kepada binatang pun beliau juga sayang. Ingat kan, kata-kata Wak Haji bahwa kita harus menyayangi semua makhluk Tuhan termasuk hewan dan tumbuhan,” bela Lik Salim yang diiyakan semua orang, termasuk Mbok Yem.

“Jadi aku bukannya ndak percaya sama sampean, Yu. Cuma aku heran apa iya begitu kejadiannya, jangan sampai kita menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya. Lagi pula siapa yang tega melakukan pembunuhan sekeji itu, terhadap Wak Haji lagi? Apa mungkin orang sebaik beliau punya musuh? Tapi siapa? Apa mungkin ada orang iri sama beliau yang dihormati semua orang?”

“Entahlah, Lim…! Tapi berita Wak Haji dibunuh dengan sembilanpuluh sembilan tusukan, bukan hanya aku yang cerita. Hampir semua orang disini sudah tahu. Betul begitu Bapak-bapak, Ibu-ibu?” seru Mbok Yem yang segera diiyakan oleh kerumunan yang hadir. “Lagipula yang cerita ini Kang Soib, santri ndalemnya Wak Haji,” sambungnya.

“Kalau dipikir lagi, pertanyaan-pertanyaanmu tadi benar juga Lim. Apa sebenarnya makna dibalik ini semua? Siapa yang tega melakukan itu? Manusia macam apa sebenarnya pembunuh itu?” tiba-tiba saja Mbok Yem terlihat serius mengungkapkan pertanyaannya. Dan tidak ada satupun warga yang bisa menjawabnya. Semuanya berkutat dengan pertanyaannya masing-masing, dengan analisisnya sendiri-sendiri. Sekali lagi…masih tanpa ada yang bisa menjawab, dan jadi misteri di benak masing-masing orang yang datang. Sama misterinya dengan sebab musabab dan pembunuh dari kematian Wak Haji.

“Idih…sadis banget! Siapa yang tega melakukan itu pada beliau?” hanya seputar itu pertanyaan yang timbul. Dan semuanya sama-sama sangat menyesalkan, juga sumpah serapah terhadap pembunuh yang belum juga ditemukan. Binatang, manusia keji…dan sejenisnya.

“Padahal selama ini beliau sangat baik kepada kita semua.” Seru suara diujung kerumun yang baru saja datang. “Ya..ya betul. Kita sangat berhutang budi, beliau yang mengajarkan ilmu agama terhadap semua orang disini, beliau yang memberi kita cahaya ilahiyah.” Yang lain menimpali lagi. Pada dasarnya banyak warga menyesalkan mengapa peristiwa itu harus terjadi padanya, orang yang sangat mereka hormati. “Kepergian yang menyakitkan…!”, demikian kata mereka. Manusia biadab, itu istilah mereka bagi pembunuh Wak Haji.

“Apa sebenarnya yang tlah terjadi pada Wak Haji?” tanya Kang Zain, mantan santri Wak Haji yang baru saja datang kepada Soleh, salahsatu santri Wak Haji.

“Tidak begitu jelas, Kang! Yang aku dengar Wak Haji ditusuk orang tak dikenal saat mau sholat subuh.”

“Lalu, Wak Haji…!”

“Beliau sudah meninggalkan kita semua, murid-muridnya”, jawab Soleh kemudian.

“Innalillahi Wa Innailaihi Ro’jiun”, ungkap Kang Zain. “Lalu pembunuhnya? Musababnya apa, Leh?”

“Nggak tahu, Kang. Tapi kasusnya sudah ke polisi. Semoga saja pembunuhnya cepat ketemu.”

“Ya, semoga…”

“Sampean datang sama siapa, Kang?” tanya Soleh mengalihkan bicara.

“Sebenarnya aku kesini mau nyusul istriku, Ratri. Ingat Ratri toh? Keponakan Wak Haji yang dulu ikut ndalem Wak Haji? Sekarang dia sedang hamil. Sebenarnya aku mau minta restu ke Wak Haji supaya kelahiran anakku nanti lancar, ibunya selamat dan anakku jadi anak yang soleh, solekhah. Eh.., malah kejadiannya seperti ini!”

“Lah istrimu sekarang dimana, Kang?”

“Loh, belum sampe sini toh? Siang kemarin istriku berangkat dulu, katanya biar lebih lama kangen-kangenan dengan keluarga wak-nya. Mestinya kemarin sore sudah sampai sini. Apa sampean sama sekali ndak ketemu sama dia?” tanya Kang Zain yang dijawab dengan gelengan si Soleh. “Di mana ya dia sekarang? Apa mungkin pulang lagi ke desa?” desah Zain dengan gelisah.

***

“Maafkan aku, Kang Zain. Aku sangat menyayangimu. Aku harus melakukannya, Kang. Maafkan aku…”, desis Ratri berkali-kali. Dan berkali-kali pula ia turun-naik ke kali. Keindahan kali desa yang jernih dan tajamnya batu-batu cadas di pinggir kali seakan tak dihiraukannya. Berkali-kali ia membasuh muka dan mencuci tangannya, seolah tersimpan najis mugholadoh ditangannya.

Tiba-tiba ia berhenti, duduk pada sebuah batu yang ada di pinggiran sungai. Sebuah senyum tersamar dibibirnya, mengikis gurat kelelahan dan kegalauan yang melanda hati. Dielusnya perut yang sudah mulai membesar. “Anakku.., maafkan Ibumu. Ibu hanya menjalankan tugas, sebagai keyakinan Ibu pada makna pengHAMBAan. Ibu tak ingin memelihara dosa Bapakmu, Nak. Maafkan Ibu, hanya sebatas ini ikhtiar Ibumu Nak. Anakku sayang, engkau akan tetap hidup bersama Ibumu. Kita akan hidup bahagia meski tanpa kehadiran bapakmu, Nak.”

“Sekarang Ibu ingin istirahat sebentar. Ibu sangat lelah. Tidurlah engkau dalam rahim, Ibu akan menjagamu dalam tidur.” Direbahkannya badan dan dipejamkannya mata. Terbayang dipelupuknya peristiwa-peristiwa dari ketika ia harus dipelihara keluarga waknya hingga pada sebuah peristiwa menggoncangkan yang membawanya ke biduk rumah Zain, suaminya sekarang, suami yang sangat mencintainya, suami yang tidak akan pernah tahu anak siapa yang dikandungnya sekarang. Hingga ia membirukan keyakinan harus melakukan pembunuhan pada orang yang sebenarnya ia hormati, pada Waknya…

“Ratri, mereka semua keluargamu. Ini masmu Fadhli, anak angkat Uwak. Ayo kenalan dulu. Ratri tinggal disini ya,” senyum manis Uwak dan sambutan hangat keluarga dari uwak ibunya meluruhkan kecemasan yang sempat melanda hatinya. Ratri yang waktu itu baru berumur sepuluh tahun harus kehilangan kedua orangtuanya karena sebuah kecelakaan akhirnya tinggal bersama keluarga waknya. Didikan penuh religi dan kasih sayang yang melimpah dari semua keluarga, khususnya Wak Haji semakin menumbuhkan cinta dan bakti pada keluarga itu. Hingga pada suatu saat, ketika ia berumur tujuhbelas tahun…

“Ratri, Budhe mau ke pasar. Tolong antarkan makan siang buat Wakmu di sawah ya. Sudah Budhe siapkan di atas meja makan. Ingat ya, Ratri”, perintah Budhenya suatu pagi yang dijawabnya dengan sebuah anggukan. Sebenarnya Ratri sangat lelah, semalam ia tidak bisa tidur hingga rasa kantuk menyerangnya pagi itu. Ingin rasanya ia tidur barang sebentar. Tapi demi baktinya pada keluarga yang mengasuhnya, ia paksakan juga untuk berangkat. Hari itu rumah memang sepi, para santri yang biasa mondok di tempat Waknya banyak yang pulang ke desanya masing-masing. Hanya beberapa yang masih tinggal, itu pun karena mereka belajar agama sambil bekerja.

“Kasihan Wak, pasti tidak ada yang membantunya di sawah.” Pikirnya. Langkah-langkah kecil kaki Ratri segera menuntunnya ke sawah tempat dimana waknya tengah bekerja. Tanah becek sisa hujan semalam yang mengotori kakinya tak dihiraukan, yang ia inginkan adalah segera sampai agar waknya tak menunggu lama.

“Wak, Ratri bawakan makan siang. Makan dulu ya, Wak!” teriaknya dari pematang sawah kepada uwaknya yang ada di tengah sawah.

“Ya.., letakkan saja di gubug. Nanti Wak kesitu.” Jawab uwaknya dengan sedikit berteriak juga.

Gubug yang dimaksud sebenarnya lebih tepat disebut sebagai rumah setengah permanen, karena meskipun dibangun dari papan kayu dan berlantai tanah tapi didalamnya ada sebuah bale untuk kenyamanan istirahat, baik siang maupun malam.

Ratri telah membasuh kakinya di sungai kecil sebelah gubug ketika waknya datang. “Kok kamu yang mengantar, Ratri? Apa di rumah nggak ada orang?”, tanya Wak Haji.

“Budhe lagi ke pasar, Wak. Di antar sama Kang Zain. Makanya Ratri yang ke sini.”

“Capek, Wak? Ratri bisa bantu apa, Wak?”

“Tidak usah, Ratri. Nanti tanganmu malah kotor.”

“Gak apa-apa kok, Wak. Atau Ratri pijitin aja ya…, Wak mesti istirahat. Sini deh, Wak.” Ratri beringsut mendekati waknya, dan mulai memijiti bahunya. Kemanjaan dan perhatian Ratri pada akhirnya membawanya ke peristiwa yang akan membekas seumur hidup.

“Kamu capek, Ratri? Kalau capek, sudah istirahat sana. Dari tadi kok menguap terus?” tanya Wakya

“Sebenarnya Ratri tadi malam nggak bisa tidur, Wak. Makanya Ratri ngantuk banget.” Jawab Ratri sambil tetap memijiti Waknya yang tiduran di bale.

“Kalo ngantuk kamu tidur saja di bale sini. Nanti Wak bangunkan kalo mau pulang.”

“Iya deh, Wak. Tapi benar ya, Wak. Nanti Ratri dibangunin…”

Ratri pun tertidur dengan pulasnya, ia bermimpi bertemu dengan kedua orang tuanya… “Ratri, sayang…pulang, Nak!” terdengar Ibunya berbisik dengan lembut di telinganya. “Ibu.., ayah.., jangan pergi! Ratri sangat rindu. Jangan tinggalkan Ratri.., Jangan..!”. Ratri tiba-tiba merasakan beban yang berat ketika orangtuanya pergi dari mimpi siangnya, beban yang mulai dirasakannya nyata menindih tubuhnya. Setengah sadar, Ratri membuka mata…

“Uwak! Apa yang…” belum sempat Ratri bersuara, uwak yang dihormatinya sudah membekap mulutnya. Semakin Ratri meronta, semakin keras uwak yang disayanginya memaksa, hingga ia merasakan sebuah kesiaan belaka…

“Sudah jangan menangis, Wak akan bertanggungjawab. Ingat Ratri, kalau kamu bersuara pada Budhemu atau pada yang lain, Wak akan mengusirmu.” Gumam Waknya ketika dilihatnya Ratri menangis.

“Ratri, Uwak sangat merindukan anak kandung, bukan anak angkat seperti selama ini. Wak sangat menyayangimu, Ratri. Ratri…” Tak dihiraunya uwak yang masih saja bercerita menghiburnya, baginya uwak yang dihormati dan disayanginya itu sudah bukan uwak yang ia kenal selama ini, uwak sudah menjadi monster yang baru saja membunuhnya. Ia segera pulang dengan berlari, dan masih tetap menangis..

Ratri tahu, tak mungkin ia melukai hati Budhenya, tak tega ia membuka kedok wak haji yang selama ini selalu menjadi rujukan nasehat warga sekampung. Namun sikap Ratri yang demikian, justru menjadi bumerang bagi dirinya, kejadian itu terus berulang dan berulang hingga sembilanpuluh sembilan kali. Sampai pada akhirnya, ketika Ratri merasa tamunya sudah telat dua bulan, ia dipanggil uwak dan budhenya di ruang keluarga…

“Ratri, sudah berapa tahun ikut keluarga Uwak? Delapan tahun ya… Ratri, dulu orangtuamu berpesan supaya Budhe menjagamu sampai kamu menikah. Masmu, Fadhli juga sudah menikah,” kata Budhe membuka pembicaraan. Ia belum bisa menerka arah pembicaraan budhenya. Diliriknya uwak, terlihat ia hanya membungkam seolah tidak mau tahu urusan Ratri dan istrinya.

“Begini, Ratri.. Ratri sudah lama mengenal Kang Zain, kan? Dia sudah lama nyantri di sini, bulan depan sudah waktunya ia kembali ke kampungnya untuk menyebarkan ilmu yang didapat. Dia orang yang baik, soleh dan yang terpenting dia juga menyayangi kamu. Paham maksudku, Ratri?” sambung Budhe lagi. Ratri hanya membisu, dan itu sudah cukup berarti bagi Budhe bahwa Ratri menyetujui perjodohannya.

Pernikahan segera dilangsungkan, dan Ratri pun segera di boyong ke kampung Zain. Tanpa seorang pun yang tahu, Ratri membirukan rencana didalam hatinya. Rencana yang dilaksanakannya lima bulan kemudian…

***

“Kang Zain, uwak tak sebaik yang Akang kira. Dia tak sebaik yang orang-orang kira, Kang.” Ratri tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan turun ke kali, membasuh lagi tangannya.

“Kang Zain, Budhe, orang-orang sekampung…biarlah kalian tidak pernah tahu siapa uwak sebenarnya. Sebagaimana pula kalian tidak pernah tahu siapa bapak anak yang aku kandung ini, juga siapa yang telah membunuh uwak. Tidak, uwak tidak pernah mati. Hanya jasadnya yang mati, bahwa hanya kematian yang bisa mengakhiri manusia melakukan dosa. Akulah yang menyelamatkannya, menyelamatkannya dari Tuhan. Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosa Uwak…”

Pemahaman Gender

PERLU PEMAHAMAN GENDER TERHADAP GURU SD

Bila kondisi ini terus berjalan tanpa penanganan yang jelas akan berdampak negatif. Seperti yang diutarakan oleh Atam Dastam (kompas/22/02/01), bahwa perpsepsi bias gender pada struktur kognitif para guru dapat berbahaya bagi pembentukan persepsi siswa tentang gender. Dalam intereksi akan terjadi peniruan perilaku dan penyerapan nilai oleh siswa. Bias gender pada anak SD seyogyanya sedini mungkin harus diatasi. Jika tidak, sistem nilai itu akan terbawa sampai dewasa. Jika menjadi pejabat hal itu mempengaruhi caranya membuat kebijakan publik.Sehingga guru adalah subjek yang bisa mencairkan konsep gender itu sendiri. Peran guru sangat mutlak untuk melakukan pemberian materi yang berwawasan gender. Guru yang memiliki pemahaman gender akan menjelaskan kepada anak didik terhadap buku ajar atau pelengkap pelaksanaan proses pengajaran dengan sebenarnya.


Untuk memahamkan gender terhadap guru sekolah dasar diatas diperlukan beberapa langkah yang strategis diantaranya: pertama; diadakannya workshop atau pelatihan gender bagi guru mata pelajaran melalui Diknas, PGRI, LSM dan instansi terkait. Kedua; adanya pengkritisan buku ajar yang beredar melalui musyawarah guru ataupun per
temuan lainnya. Sehingga peran guru, Diknas, PGRI dan instansi terkait sangat penting untuk mensosialisasikan pendidikan yang tidak bias gender.

Halaman Berikutnya »